Primary tabs

Artikel : Problema Lansia Terlantar

ARTIKEL KESEHATAN

PROBLEMA BAGI LANSIA TERLANTAR

DISUSUN OLEH :

   Juwita, S. Kep., Ners

    Usia tua  atau lebih dikenal dengan istilah lanjut usia merupakan fase paling akhir dalam kehidupan manusia, semua ini sudah menjadihal yang pasti terjadi bagi semua manusia  yang pasti dilalui oleh setiap orang jika diberi umur panjang hingga masa tua nanti. Proses menua ini akan mengalami berbagai perubahan kondisi pun akan dialami oleh setiap orang di masa tuanya, baik secara biologis, psikologis dan sosial yang saling berinteraksi satu sama lain akibat bertambahnya umur. Oleh sebab itu, kesejahteraan dan kualitas kehidupan manusia lanjut usia perlu mendapat perhatian khusus agar dimungkinkan dapat hidup secara produktif sesuai dengan kemampuannya. Proses penuaan (aging process) dalam perjalanan hidup manusia merupakan suatu hal yang wajar yang pasti terjadi bagi semua manusia

Menurut teori perkembangan manusia dimulai dari masa bayi, anak, remaja, dewasa, tua dan akhirnya masuk pada fase usia lanjut dengan umur 60 tahun dan di atas 60 tahun, seiring berjalannya waktu, proses penuaan tersebut terjadi secara natural. Masa penuaan inilah yang kemudian banyak terjadi perubahan – perubahan pada diri lansia dilihat dari aspek fisik dan psikologis. idealnya, lansia akan menikmati masa tua dengan fisik yangs sehat dan kuat, tidak sakit-sakitan, masih dapat beraktifitas sesuai kemampuan, perasaan yang tenang dan bahagia, tidak merasa kesepian, memiliki keluarga yang bahagia, anak cucu yang senantiasa dekat, kawan-kawan yang masih bisa diajak berbagi cerita, dan kondisi spiritual yang tenang, khususnya dengan kepercayaan dan agama masing – masing yang dianut oleh lansia tersebut. Ketika lansia mengalami hambatan besar dalam menikmati masa tuanya tersebut, maka dia disebut lansia yang tidak sejahtera.

Jika ketidaksejahteraan itu diakibatkan oleh faktor-faktor yang berada di luar dirinya, seperti dari keluarga dan lingkungannya, maka dia disebut sebagai lansia terlantar.Perlu diketahui bahwa ada dua jenis lansia terlantar diantaranya adalah terlantar secara ekonomi dan terlantar secara sosial.Kenapa demikian karena lansia terlantar secara ekonomi jika kebutuhan-kebutuhannya itu terhambat karena kemiskinannya.Dia tidak bisa mendapatkan ketercukupan nutrisi karena tidak mampu membeli sembako, dia tidak tinggal di tempat yang layak karena tak ada biaya atau keluarga yang menyokongnya, dia tidak mampu ke dokter untuk mengobati sakitnya. Kemudian disebutsebagai  lansia yang terlantar secara sosial apabila lansia tersebut dalam kondisi seperti kesepian, karena mungkin ditinggal oleh pasangannya, anaknya, cucunya atau teman-temannya yang barangkali sudah meninggal terlebih dahulu. Dengan tidak mempunyainya aktifitas, maka lansia tersebut hanya membakar waktu dari hari ke hari tanpa ada yang bisa dilakukan. Bentuk perhatian yang kurang , karena mungkin orang-orang di sekitarnya tidak ada yang bisa diajak curhat, diajak bernostalgia, atau mungkin diajarkan sesuatu yang dimilikinya.

Masalah-Masalah Yang Dihadapi Oleh Lansia

  • Lansia mudah terjatuh

Disebabkan oleh  beberapa factor kenapa lansia mudah jatuh , diantarnya adalah  faktor intrinsik seperti gangguan gaya berjalan, kelemahan otot-otot kaki, kekakuan sendi, dan pusing, serta faktor ekstrinsik seperti lantai licin dan tidak rata, tersandung benda-benda sekitar, penglihatan kurang jelas karena cahaya kurang terang,

  • Lansia mengalami penurunan daya ingat/ demensia

Dengan proses penuan ini dimana lansia akan mulai mengalami penurunan daya ingat yang akhirnya menyebabkan mereka menjadi pikun dan demensia.

  • Lansia bisa mengalami depresi

Disebabkan oleh berbagai faktor contohnya perubahan fisik mereka yang menyebabkan fungsi kerja alat indraatau otot tubuh mereka menjadi menurun.

  • Lansia juga yang mengalami agitasi dan kegelisahan.

Hal ini biasanya terjadi karena mereka merasa kurang perhatian dan kasih sayag ng dari orang terdekat .

Kenali 5 Jenis  Lansia

1. Pralansia : Pralansia  adalah lansia yang  berusia antara 45-59 tahun

2. Lansia : Lansia yang berusia antara 60 tahun atau lebih.

3. Lansia resiko tinggi : Seorang yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.

4. Lansia potensial : Lansia yang masih energik dan mampu untuk melakukan pekerjaan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang / jasa .

5. Lansia tidak potensial : Merupakan jenis lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain .

Fase – fase proses penuan

  • Fase I: terjadi pada saat seseorang mencapai usia 25-35 tahun. Pada masa ini produksi hormon mulai berkurang dan mulai terjadi kerusakan sel, tetapi tidak memberi pengaruh pada kesehatan.
  • Fase II: terjadi pada saat usia 35-45 tahun, produksi hormon sudah menurun sebanyak 35% dan tubuh pun mulai mengalami penuaan. Pada masa ini, mata mulai mengalami rabun dekat sehingga perlu menggunakan kacamata berlensa plus, rambut mulai beruban, dan staminapun mulai berkurang.
  • Fase III: terjadi pada usia 45 tahun keatas. Pada masa ini produksi hormon sudah berkurang hingga akhirnya berhemti. Kaum perempuan mengalami masa menopaus, sedangkan kaum pria mengalami masa andropause.

Ketergantungan Pada kaum Lansia

Beberapa ketergantungan yang dibutuhkan oleh orang-orang lanjut usia adalah sebagai berikut:

  • Ketergantungan personal Ketergantungan paling berat yang dialami lansia dalam melaksanakan aktivitas pokok sehari-hari terhadap dirinya sendiri sehingga perlu mendapatkan bantuan dari orang lain secara intensif hampir sepanjang hari.
  • Ketergantungan domestik Ketergantungan lansia yang membutuhkan bantuan orang lain hanya dalam beberapa pekerjaan rumah tangga yang tidak pokok misalnya, memasak, mencuci, dll.
  • Ketergantungan sosial/finansial Ketergantungan lansia yang membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan pekerjaan di luar rumah. Misalnya berbelanja, mengunjungi keluarga, menabung, dll.

Kebutuhan Hidup Lansia

Menurut pendapat Maslow dalam teori Hierarku Kebutuhan, kebutuhan manusia meliputi:

  1. Kebutuhan Fisik (Physiological needs) adalah kebutuhan fisik atau biologis seperti pangan, sandang, papan.
  2. Kebutuhan ketentraman (Safety needs) adalah kebutuhan akan rasa keamanan dan ketentraman, baik lahiriah maupun batin seperti kebutuhan akan jaminan hari tua, kebebasan, kemandirian, dan sebagainya.
  3. Kebutuhan Sosial (Social needs) adalah kebutuhan untuk bermasyarakat atau berkomunikasi dengan manusia lain melaluipaguyuban, organisasi, profesi, kesenian, olah raga, kesamaan hobi, dan sebagainya.
  4. Kebutuhan harga diri (Esteem needs) adalah kebutuhan akan harga diri untuk diakui keberadaannya.
  5. Kebutuhan aktualisasi diri (Self actualization needs) adalah kebutuhan untuk mengungkapkan kemampuan fisik, rohani maupun daya pikir berdasarkan pengalamanya masing-masing, bersemangat untuk hidup, dan berperan dalam kehidupan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal PKS Vol 16 . Diakes Pada 01 Maret file  :///C :/Users/ User/Downloads/aanhidayatulloh, +Artikel+1_Yanuardi.pdf

Mutiara, Erna. (2011). Policy Brief: Karakteristik dan Kebutuhan Penduduk Lanjut Usia di Kota Medan. Jakarta: BKKBN RI.

Jurnal.S.Handayani.2015. http://e-journal.uajy.ac.id/8453/3/TA213822.pdf

 

 

Penulis: 
Juwita, S. Kep., Ners (JFT Perawat Pada UPTD PSBS)
Sumber: 
Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa Prov.Kep.Bangka Belitung

Artikel

07/09/2022 | Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa Prov.Kep.Bangka Belitung
01/09/2022 | Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Kep.Bangka Belitung
31/08/2022 | UPT Panti Bina Serumpun Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Kep.Bangka Belitung
31/08/2022 | Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Kep.Bangka Belitung
31/08/2022 | UPT Panti Bina Serumpun Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Kep.Bangka Belitung
29/12/2021 | Mustikawati, S.Kep
04/12/2020 | Ns. MUSTIKAWATI, SKep
15/03/2016 | Wuri Handayani. S.Psi
31/12/2021 | Raden Imam Bramono, S.Kep., Ners
22/03/2016 | Dwi Ratna Lakitasari, S.Psi.