Primary tabs

Hari Pekerjaan Sosial Sedunia 2024, Buen Vivir: Masa Depan Bersama untuk Perubahan Transformatif

HARI Pekerjaan Sosial Sedunia yang diperingati setiap tanggal 19 Maret, tahun ini mengangkat tema “Buen Vivir: Masa Depan Bersama untuk Perubahan Transformatif”. Buen vivir sendiri merupakan sebuah istilah tentang filosofi kehidupan dari Amerika Latin yang mengakui hak alam dan hak ekologis dalam pembangunan. Secara harfiah, istilah buen vivir berarti “hidup sehat”. Seperti halnya filosofi Ubuntu dari Afrika Selatan yang diangkat dalam tema peringatan Hari Pekerjaan Sosial Sedunia pada tahun 2021, bahwa keharmonisan lingkungan dan manusia menjadi hal penting dalam mewujudkan kesejahteraan dalam kehidupan seorang manusia dan membawa dampak untuk komunitasnya.

Falsafah buen vivir mengajak kita, khususnya pekerja sosial, untuk mengadopsi pendekatan inovatif dan berbasis komunitas yang hidup berdampingan dengan alam secara harmonis. Dalam melaksanakan pelayanan kesejahteraan sosial, pekerja sosial diharapkan dapat menggandeng kearifan lokal dan memperhatikan keharmonisan dengan lingkungan. Terlebih, tema ini merupakan akar dari agenda global untuk memperjuangkan masa depan dan kesejahteraan hidup manusia secara keberlangsungan. Buen vivir menjadi kutub alternatif untuk nilai pembangunan kemanusiaan, di mana saat ini, secara global nilai-nilai kapitalisme yang menekankan sifat individualis dan konsumtif lebih banyak diterapkan.

Alasan perkembangan filosofi buen vivir di Amerika Latin karena alasan khusus seperti sumber daya alam yang makin terkuras, perubahan iklim, dan keberadaan masyarakat adat yang dapat menjadi teladan/ kearifan lokal. Pembangunan telah banyak membawa dampak pada kehidupan manusia maupun pada alam sekitar. Lahan hijau yang makin sedikit, polusi yang makin banyak, dan kesejahteraan yang makin berjarak. Kondisi tersebut pun sejalan dengan isu global yang dialami rata-rata negara di dunia.

Tentu saja, nilai baik dalam filosofi ini perlu diterjemahkan dalam rencana konkret untuk pelaksanaan dalam mewujudkan cita-cita yang terkandung dalam falsafah tersebut. Bagaimana meramu rencana dengan menggandeng nilai-nilai kearifan lokal dan meningkatkan kepedulian pada lingkungan dengan konsep eco-green, namun dapat pula mendorong peningkatan kesejahteraan sosial.

Misalnya saja tentang sebuah ide pada pengolahan sampah untuk meningkatkan nilainya sehingga memiliki nilai jual dan tetap berdampak baik pada lingkungan sehingga mampu mendorong masyarakat untuk mengelola sampah dengan baik dan memperoleh keuntungan, baik materiel maupun nonmateriel dari kegiatan tersebut, tersemat pula harapan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat melalui perwujudan kegiatan tersebut. Upaya itu perlu menggandeng tidak hanya satu institusi, namun diperlukan sinergi dan kerja sama yang baik oleh banyak pihak dan perlu dimunculkan kepedulian untuk melaksanakannya.

Mengadaptasi filosofi tersebut, Indonesia pun memiliki banyak kearifan lokal yang mendukung kelestarian lingkungan tanpa mengesampingkan kesejahteraan masyarakat. Contohnya, kehidupan masyarakat Bangka Belitung yang dikelilingi oleh air (sungai, laut), kebun (hutan), dan tambang dalam kearifan lokalnya bahwa setiap air (sungai, laut), kebun (hutan) dan tambang memiliki “penunggu” tidak lain adalah untuk menjaga etika perilaku, melestarikan lingkungan masyarakat yang memperoleh nafkah darinya dan mengontrol sifat serakah pada diri manusia.

Selain itu, dalam mencapai masa depan bersama, PBB memperkenalkan 17 poin Sustainable Development Goals (SDGs)/Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yang menjadi tujuan global, yaitu (1) Tanpa kemiskinan; (2) Tanpa kelaparan; (3) Kehidupan sehat dan sejahtera; (4) Pendidikan berkualitas; (5) Kesetaraan gender; (6) Air bersih dan sanitasi layak; (7) Energi bersih dan terjangkau; (8) Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi; (9) Industri, inovasi, dan infrastruktur; (10) Berkurangnya kesenjangan; (11) Kota dan permukiman yang berkelanjutan; (12) Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab; (13) Penanganan perubahan iklim; (14) Ekosistem lautan; (15) Ekosistem daratan; (16) Perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh; (17) Kemitraan untuk mencapai tujuan.

Pada akhirnya, filosofi buen vivir tidak hanya diharapkan berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi dapat pula meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat dengan memperhatikan kearifan lokal sehingga masa depan bersama untuk perubahan transformatif dapat terwujud dengan baik. Kearifan lokal yang dikelola dengan roh buen vivir dan sejalan dengan poin-poin dalam SDGs dapat mendorong pembangunan untuk Bangka Belitung yang lebih baik dan meluas pada negeri kita tercinta, Indonesia. (*)

Disclaimer : Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com dengan judul Hari Pekerjaan Sosial Sedunia 2024, Buen Vivir: Masa Depan Bersama untuk Perubahan Transformatif, https://bangka.tribunnews.com/2024/03/17/hari-pekerjaan-sosial-sedunia-2024-buen-vivir-masa-depan-bersama-untuk-perubahan-transformatif.

Penulis: 
Dwi Ratna Laksitasari
Sumber: 
bangka.tribunnews.com

Artikel

13/10/2023 | Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Kep.Bangka Belitung
26/07/2023 | Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Kep.Bangka Belitung
14/12/2022 | Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Kep.Bangka Belitung
29/12/2021 | Mustikawati, S.Kep
04/12/2020 | Ns. MUSTIKAWATI, SKep
30/04/2021 | Raden Imam Bramono, S.Kep., Ners
31/12/2021 | Raden Imam Bramono, S.Kep., Ners